Anak ABG Ikut Aksi Demo di Tasik Berujung Ricuh

Anak ABG Ikut Aksi Demo di Tasik Berujung Ricuh

Banyaknya orang tua yang terlibat dalam protes tersebut menyebabkan kericuhan di lingkungan Polres Tasikmalaya. Mereka bertemu dengan anak-anak mereka, yang ditangkap polisi.

Para orang tua ini mengaku bahwa anak-anak sudah berpamitan dengan permainan dan malah turun untuk mengikuti acara tersebut. .

“Kamu tidak merasa kasihan pada ibumu. Kamu tidak merasa kasihan pada ayahmu. Mengapa kamu harus melakukan ini. Maaf aku membangunkanmu. Di Polsek Tasikmalaya.

Orang tua meminta polisi untuk tidak menangkap anak-anak mereka. Mereka percaya bahwa anak mereka tidak bersalah, hanya diundang oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

“Saya mau ambil. Polisinya baik-baik saja. Kenapa anak saya disuapi di sini? Dan anak saya dipulangkan,” kata Euis, orang tua lainnya.

Banyak anak merasa bersalah dan menangis saat mencium kaki dan tangan ibu mereka. Mereka juga mendorong ibu mereka seolah-olah mereka tidak akan bebas.

“Maaf Bu. Kami tidak mengulangi janji Allah,” kata AR (14).

Polisi mengkonfirmasi bahwa 42 orang telah ditangkap dalam operasi tersebut. Dari jumlah tersebut, 22 adalah anak usia sekolah. Mereka berusia antara 13 dan 17 tahun.

Sementara itu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia Kabupaten Tasikmalaya menemukan ada yang mengundang anak-anak ini untuk berunjuk rasa. Sebagian besar masih awam dengan persyaratan Kejaksaan Negeri Tasikmalaya.

“Jadi, menurut polisi, 22 dari total 42 anak ditangkap. Satu mengundang mereka dan mereka tidak tahu harus berkata apa pada pertemuan kemarin,” kata Ato Rinanto, kepala Tasikmalaya. KPAID Kabupaten.

Polisi berencana membawa pulang semua peserta yang masih anak-anak.

Tidak ada ruginya

Jaksa memastikan tidak ada kerugian atau kerusakan yang terjadi akibat aksi unjuk rasa yang berujung pada rusaknya mobil polisi Tasikmalaya tersebut. Pelayanan Kejaksaan Negeri (Kejari) Tasikmalaya masih berjalan.

🔥 Trending 🔥  Pandemi Membayangi Indutri Asuransi Kendaraan di Tahun ini

“Alhamdulillah tidak ada apa-apa. Kantor tidak ada yang rusak. Kegiatan di kantor berjalan seperti biasa. Sidang berjalan lancar,” kata Menteri Kehakiman Jabar Emil Dodi Gazali, Selasa (13/7/2021).

Demonstrasi berlangsung kemarin di depan kantor Kejari Tasikmalaya. Orang-orang berkumpul untuk meminta keadilan atas gugatan yang diajukan oleh seorang anggota gereja, yang salah satu anggotanya adalah Habib Rizieq Shihab.

“Sebenarnya waktu itu gemetar, ada yang mau sikat gigi ke atas, tapi malah turun lagi,” ujarnya.

Dodi mengatakan saat kejadian itu, kantor Kejari Tasikmalaya sedang melakukan kegiatan vaksinasi. Ia memastikan tidak ada kerugian baik bagi masyarakat maupun warga yang divaksinasi.

“Kemarin, ketika ada kasus penghentian vaksinasi untuk waktu yang singkat, kami mengosongkannya agar aman,” katanya.

“Setelah itu (periode), mereka berkelahi dengan polisi, tapi itu di luar. Untungnya, staf dan pengunjung yang tiba di Kejari tidak terluka atau terluka,” tambah Dodi.

Dodi menyayangkan aksi unjuk rasa yang berujung pada kehancuran. Selain itu, aksi unjuk rasa digelar di tengah keadaan darurat PPKM.

“Kami meragukan kasus ini jika ingin menyampaikan pendapat dengan benar, apalagi sekarang dengan PPKM darurat,” katanya.

Sebelumnya, massa dan konflik muncul dengan pihak berwenang ketika tuntutan pembebasan HRS diajukan ke Kejaksaan Kabupaten Tasikmalaya. Massa juga merusak kendaraan dinas polisi di luar.