Indutri Asuransi Kendaraan

Pandemi Membayangi Indutri Asuransi Kendaraan di Tahun ini

Meningkatnya jumlah kasus Covid-19 di Tanah Air, yang akhirnya mendorong pemerintah untuk memperketat aturan dan menerapkan PPKM darurat, turut memberikan tantangan bagi industri asuransi mobil tahun ini. Padahal, industri ini belum berkembang sejak wabah Covid-19 tahun lalu.

Menurut data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), pendapatan premi terus turun 19,9% year-on-year di kuartal pertama, menjadi 3,97 triliun.

Direktur Utama AAUI Dody AS Dalimunthe mengatakan kondisi pandemi Covid-19 saat ini dan adanya PPKM darurat membuat industri asuransi mobil masih memiliki banyak tantangan.

Salah satu tuntutan utama dalam industri ini adalah menurunnya daya beli masyarakat. Dody menilai konsumsi kendaraan bermotor masih terus ditahan oleh masyarakat, sehingga pembelian oleh perusahaan multifinance juga turun.

“Daya beli masyarakat sepertinya belum kembali karena kebutuhan primer saat ini lebih diutamakan daripada kebutuhan sekunder,” kata Dody , Kamis (22/7).

Namun, Dody melihat masih ada optimisme industri asuransi mobil ini bisa tumbuh hingga akhir tahun. Juga karena perkiraan produksi produsen mobil yang naik setelah sebelumnya produksi sempat ditahan.

Salah satu perusahaan asuransi yang mengaku terkena dampak PPKM darurat adalah Asuransi Perlindungan Cakrawala Indonesia (ACPI). Wakil Direktur ACPI Nicolaus Prawiro mengatakan asuransi mobil terkena dampak akibat aturan tersebut.

“PPKM darurat mengurus penutupan showroom mobil sehingga leasing juga tidak optimal,” kata Nico.

Meski mengakui bahwa premi mulai turun pada bulan Juli, Nico menolak mengatakan berapa banyak perusahaan telah mengalami penurunan dan tetap optimis bahwa biaya akan terus naik hingga akhir Juli.

Bahkan, dia hanya berharap PPKM darurat dihentikan dan tidak diperpanjang. Mudah-mudahan, bisnis multifinance akan mencapai tujuannya di sisa waktu terakhir.

Pada semester pertama tahun ini, ACPI terus menunjukkan kinerja pendapatan premi yang cukup baik, mencerminkan pertumbuhan tahunan sebesar 23% menjadi Rp 590 miliar. Sebagai perbandingan, pendapatan premi perseroan pada periode yang sama tahun lalu hanya Rp 480 miliar.

🔥 Trending 🔥  Tata Cara Mandi Junub Yang Benar

“Sejauh ini kami optimistis target total pendapatan premi akan mencapai Rp 1,3 triliun hingga akhir tahun, meskipun akan kita lihat lagi pada kuartal ketiga saat ini,” tambah Nico.

Asuransi Wahana Tata (Aswata) masih melihat masih belum ada dampak dari adanya PPKM darurat. Namun, pendapatan premi terus menurun sebesar 5% menjadi Rs 810 miliar di semester pertama.

“Saya tidak tahu apakah ini karena (PPKM darurat) penurunan pendapatan premi atau tidak. Mudah-mudahan dari bulan ke bulan tidak turun,” kata Christian Wirawan Wanandi, CEO Aswata.

Sebaliknya, ia melihat peluang asuransi mobil akan terus tumbuh. Asal tahu saja, asuransi mobil hadir dengan kontribusi 30% yang cukup besar. “Asuransi mobil ini bisa naik karena ada insentif pemerintah terkait pajak 0%,” tutup Christian.